Jumat, 28 Desember 2012

sejuta cinta hanya satu raga

sejuta cinta hanya satu raga
 
Ketika berbicara tentang ibu tidak cukup satu halaman untuk mengungkapkannya, bahkan jika ada huruf lebih dari Z akan terus berbicara tentang ibu. Bagiku ibuku buan hanya sekedar dia yang melahirkanku, bukan hanya sekedar orang yang setia dengan hidupku, tapi ibu bagiku adalah sosok yang mempunyai cara beda untuk menyayangi dan mencintaiku. Banyak kisah sedih, suka, kecewa, bimbang, campur aduklah didalamnya dan 20 tahun 5 bulan ibuku selalu bersamaku. Merasakan indahnya hidup adalah ketika bersandar disamping ibu disore hari bahkan hingga malam hari tanpa sadar belum mandi, indah hidupku ketika bersama ibu bukan hanya sehari atau dua hari saja tetapi 20 tahun 5 bulan aku merasakan hidupku indah, tanpa beban. Ketika bersama ibu, rasa manja, aman, nyaman selalu muncul, ibu selalu mengajarkan aku tentag arti kedewasaan tapi aku sealu saja tidak bisa mengartikan kedewasaan itu apa, dan bagaimana melaksanakannya mungkin karena ibu selalu memanjakanku. Hal yang paling menyedihkan adalah ketika bulan juli 2009, ibu masuk ICU pertama kalinya karena penyakit jantung yang selama ini dideritanya, menunggu orang terkasih terbaring di ICU dengan peralatan kedokteran untuk menyambung nyawanya, pada saat itu tepat di ujian akhir kuliahku, belajar diruang tunggu ICU dari sore hingga malam, terus terusan seperti itu hampir 10hari lamanya. Sempat ibu berkata padaku bahwa sakitnya itu karena aku, aku juga tak habis pikir bodohnya aku hingga membuat ibuku terbaring di ICU, mungkin karena kenakalanku di kampus sehingga membuatnya kaget. Pada saat itu ibu sudah menceritakan tentang kematian, miris mendengarnya ketika bercerita tentag hal kematian, sangat tidak mau untuk ditinggalkan ibu. Kemudian pada bulan agustus 2010 ibu terbaring di ICU kembali dengan penyakit yang sama, kondisi ibu pada saatitu sudah memperihatinkan, terbaring tidak berdaya bahkan ketika diantar dari rumah ke rumah sakit ibu sudah tidak bernapas, ketika itu diantar dengan mas yosi dan aku disamping ibuku hanya bisa nangis dan memeluknya dimobil dan memberikan semangat untuk dapat bertahan, akhirnya ibuku masih bisa tertolong sesampainya dirumah sakit. Ibuku sudah kritis terbaring di ICU, tidak pernah sedikitpun aku melewatkan waktu untuk menunggu ibu di ICU, jaga sendirian bergantian dengan kakakku yang lainnya. Ibuku bisa melewati masa kritisnya itu dengan lancar, hingga hampir 15 hari ibuku dirawat. Setahun berjalan ibuku pun semakin menunjukkan peningkatan kesehatan yang sangat luar biasa, berat badannya pun naik, tidak pernah kambuh dan selalu ceria menemani hari-hariku. Namun ketika tanggal 31 mei 2011 itu datang semuanya sirna sudah,30 mei 2011 pada saat itu sekitar jam 7 malam aku meminta untuk dipijit ibu karena pada saat itu aku lagi masuk angin, aku sempat protes “buk, pijitannya kurang kenceng gag kerasa” dan ibuku pun menjawab “maklum ibu sudah tidak kuat” tanpa aku sadari kata-kata itu yang memang memberikan jawaban. Pada hari itu obat-obat jantung yag biasa dikonsumsi ibu sudah habis, walaupun keadaan sakit aku tetap menuju kerumah sakit untuk beli obat-obatan itu. Sebelum sesampainya dirumah ibu menelponku untuk membelikannya bakmie jawa, tanpa aku sadari itu adalah makanan terakhir ibuku. Sesampainya dirumah, ketika itu kamar tidur ibu sedang direnovasi dengan tak ragu ibuku menyuruh bapakku untuk membersihkan kamar, dan aku pun juga demikian disuruh untuk membersihkan seisi rumah dan kamarku. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba ibu menyuruh hal itu ditengah malam, kemudian sekitar jam 1 aku bergegas kekamar untuk tidur karena besok aku harus ujian, dan ibu bapak pun juga bergegas ke kamar. Keesokan paginya aku bangun jam 7 untuk berangkat kuliah dan akupun merasakan hal yang aneh dalam rumahku itu pada pagi itu, tanpa menghiraukann hal-hal itu au langsung bergegas mandi dan siap-siap ke kampus. Setelah rapi aku membangunkan bapak untuk mengeluarkan motorku, ketika itu aku melihat ibuku sedang tertidur pulas. Ketika aku ingin berpamitan dengan ibuku, apa yang aku dapati adalah hal yang menyesakkan seumur hidupku. Ibuku sudah terbujur kaku, dia sudah tiada dan meninggalkanku selamanya. Hanya teriakan dan tangis air mata yang hanya aku lakukan, belum pernah sebelumnya aku mendapati sosok yang terbujur kaku berada di depanku. Ibuku telah tiada dalam keadaan sehat (mungkin bagi kita yg melihatnya) dan perkataan yang ibu lontarkan semalam adalah benar adanya, ibuku tidak kuat, ibuku ingin rumahnya bersih untuk peristirahatan terakhirnya.
Jika aku berbicara tentang suka dan tawaku terlalu banyak dan mungkin tidak akan cukup untuk dituliskan. Ketika aku kehilangan dia, sama sekali aku tidak punya niatan untuk hidup, mungkin terlalu posesif tapi inilah jalan Tuhan, yang sangat terbaik untuk ibuku. Mencoba ikhlas adalah hal yang tersulit namun aku harus mencobanya dan selalu mencoba. Ternyata inilah arti kedewasaan yang seringkali ibuku ungkapkan dan ajarkan. Namun kedewasaan ini hadir bukan ketika kita ditinggalkan, tetapi kedewasaan itu muncul ketika waktu dan keadaan yang membawa kita kesana. Selamat jalan ibuku, kini Engkau telah menjadi milik Tuhan, hidup bersama dengan malaikat surga, hidup damai dalam keabadian Tuhan. Tetapi aku yakin dan percaya doamu, cintamu, harapanmu tidak hanya pada saat masa hidupmu tetapi selamanya itu akan dan selalu ada. Lebih dari penyemangat hidupku, lebih dari pemberi cinta kepadaku, lebih dari segalanya. Ingatlah ibumu bukan ketika kamu sedih, tetapi ketika kamu merasakan bahagia karena pada dasarnya ibumu tidak akan meminta kebahagiaanmu tetapi dia selalu merasakan dan memahami kesedihanmu. Berikanlah yang terbaik untuk ibumu ketika kamu masi bisa merasakan raganya, ketika kamu masi bisa menatap matanya, ketika kamu masi bisa hangat peluknya, ciumnya. Boleh kamu membuatnya kecewa karena kita manusia, tetapi jangan pernah kamu lupa mengembalikan kekecewaannya dengan senyum kebanggaan terhadap dirimu, karena senyum kebanggaan yang dia berikan kepadamu adalah maaf dari kekecewaan yang kamu buat untuknya. Minta maaflah ketika kamu merasa salah dan berdosa terhadapnya, namun ketahuilah sebelum kamu meminta maaf dia sudah memberikan maaf seribu kali banyaknya daripada maaf dari mulutmu. Ibarat perpustakaan, ibu adalah penjaga perpustakaan itu, ketika mendapati buku-bukunya usang bergegas untuk membersihkannya, menjaganya agar buku-buku itu tetap menjadi indah tidak hilang dan selalu tertata rapi. (28 nov 1952-31 mei 2011) –dedicated for my angel-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar