sejuta cinta hanya satu raga
Ketika
berbicara tentang ibu tidak cukup satu halaman untuk mengungkapkannya, bahkan
jika ada huruf lebih dari Z akan terus berbicara tentang ibu. Bagiku ibuku buan
hanya sekedar dia yang melahirkanku, bukan hanya sekedar orang yang setia
dengan hidupku, tapi ibu bagiku adalah sosok yang mempunyai cara beda untuk
menyayangi dan mencintaiku. Banyak kisah sedih, suka, kecewa, bimbang, campur
aduklah didalamnya dan 20 tahun 5 bulan ibuku selalu bersamaku. Merasakan
indahnya hidup adalah ketika bersandar disamping ibu disore hari bahkan hingga
malam hari tanpa sadar belum mandi, indah hidupku ketika bersama ibu bukan
hanya sehari atau dua hari saja tetapi 20 tahun 5 bulan aku merasakan hidupku
indah, tanpa beban. Ketika bersama ibu, rasa manja, aman, nyaman selalu muncul,
ibu selalu mengajarkan aku tentag arti kedewasaan tapi aku sealu saja tidak
bisa mengartikan kedewasaan itu apa, dan bagaimana melaksanakannya mungkin
karena ibu selalu memanjakanku. Hal yang paling menyedihkan adalah ketika bulan
juli 2009, ibu masuk ICU pertama kalinya karena penyakit jantung yang selama
ini dideritanya, menunggu orang terkasih terbaring di ICU dengan peralatan
kedokteran untuk menyambung nyawanya, pada saat itu tepat di ujian akhir
kuliahku, belajar diruang tunggu ICU dari sore hingga malam, terus terusan
seperti itu hampir 10hari lamanya. Sempat ibu berkata padaku bahwa sakitnya itu
karena aku, aku juga tak habis pikir bodohnya aku hingga membuat ibuku
terbaring di ICU, mungkin karena kenakalanku di kampus sehingga membuatnya
kaget. Pada saat itu ibu sudah menceritakan tentang kematian, miris
mendengarnya ketika bercerita tentag hal kematian, sangat tidak mau untuk
ditinggalkan ibu. Kemudian pada bulan agustus 2010 ibu terbaring di ICU kembali
dengan penyakit yang sama, kondisi ibu pada saatitu sudah memperihatinkan,
terbaring tidak berdaya bahkan ketika diantar dari rumah ke rumah sakit ibu
sudah tidak bernapas, ketika itu diantar dengan mas yosi dan aku disamping
ibuku hanya bisa nangis dan memeluknya dimobil dan memberikan semangat untuk
dapat bertahan, akhirnya ibuku masih bisa tertolong sesampainya dirumah sakit.
Ibuku sudah kritis terbaring di ICU, tidak pernah sedikitpun aku melewatkan
waktu untuk menunggu ibu di ICU, jaga sendirian bergantian dengan kakakku yang
lainnya. Ibuku bisa melewati masa kritisnya itu dengan lancar, hingga hampir 15
hari ibuku dirawat. Setahun berjalan ibuku pun semakin menunjukkan peningkatan
kesehatan yang sangat luar biasa, berat badannya pun naik, tidak pernah kambuh
dan selalu ceria menemani hari-hariku. Namun ketika tanggal 31 mei 2011 itu datang
semuanya sirna sudah,30 mei 2011 pada saat itu sekitar jam 7 malam aku meminta
untuk dipijit ibu karena pada saat itu aku lagi masuk angin, aku sempat protes
“buk, pijitannya kurang kenceng gag kerasa” dan ibuku pun menjawab “maklum ibu
sudah tidak kuat” tanpa aku sadari kata-kata itu yang memang memberikan
jawaban. Pada hari itu obat-obat jantung yag biasa dikonsumsi ibu sudah habis,
walaupun keadaan sakit aku tetap menuju kerumah sakit untuk beli obat-obatan
itu. Sebelum sesampainya dirumah ibu menelponku untuk membelikannya bakmie
jawa, tanpa aku sadari itu adalah makanan terakhir ibuku. Sesampainya dirumah,
ketika itu kamar tidur ibu sedang direnovasi dengan tak ragu ibuku menyuruh
bapakku untuk membersihkan kamar, dan aku pun juga demikian disuruh untuk
membersihkan seisi rumah dan kamarku. Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba ibu
menyuruh hal itu ditengah malam, kemudian sekitar jam 1 aku bergegas kekamar
untuk tidur karena besok aku harus ujian, dan ibu bapak pun juga bergegas ke
kamar. Keesokan paginya aku bangun jam 7 untuk berangkat kuliah dan akupun
merasakan hal yang aneh dalam rumahku itu pada pagi itu, tanpa menghiraukann
hal-hal itu au langsung bergegas mandi dan siap-siap ke kampus. Setelah rapi
aku membangunkan bapak untuk mengeluarkan motorku, ketika itu aku melihat ibuku
sedang tertidur pulas. Ketika aku ingin berpamitan dengan ibuku, apa yang aku
dapati adalah hal yang menyesakkan seumur hidupku. Ibuku sudah terbujur kaku,
dia sudah tiada dan meninggalkanku selamanya. Hanya teriakan dan tangis air
mata yang hanya aku lakukan, belum pernah sebelumnya aku mendapati sosok yang
terbujur kaku berada di depanku. Ibuku telah tiada dalam keadaan sehat (mungkin
bagi kita yg melihatnya) dan perkataan yang ibu lontarkan semalam adalah benar
adanya, ibuku tidak kuat, ibuku ingin rumahnya bersih untuk peristirahatan
terakhirnya.
Jika
aku berbicara tentang suka dan tawaku terlalu banyak dan mungkin tidak akan
cukup untuk dituliskan. Ketika aku kehilangan dia, sama sekali aku tidak punya
niatan untuk hidup, mungkin terlalu posesif tapi inilah jalan Tuhan, yang
sangat terbaik untuk ibuku. Mencoba ikhlas adalah hal yang tersulit namun aku
harus mencobanya dan selalu mencoba. Ternyata inilah arti kedewasaan yang
seringkali ibuku ungkapkan dan ajarkan. Namun kedewasaan ini hadir bukan ketika
kita ditinggalkan, tetapi kedewasaan itu muncul ketika waktu dan keadaan yang
membawa kita kesana. Selamat jalan ibuku, kini Engkau telah menjadi milik
Tuhan, hidup bersama dengan malaikat surga, hidup damai dalam keabadian Tuhan.
Tetapi aku yakin dan percaya doamu, cintamu, harapanmu tidak hanya pada saat
masa hidupmu tetapi selamanya itu akan dan selalu ada. Lebih dari penyemangat
hidupku, lebih dari pemberi cinta kepadaku, lebih dari segalanya. Ingatlah
ibumu bukan ketika kamu sedih, tetapi ketika kamu merasakan bahagia karena pada
dasarnya ibumu tidak akan meminta kebahagiaanmu tetapi dia selalu merasakan dan
memahami kesedihanmu. Berikanlah yang terbaik untuk ibumu ketika kamu masi bisa
merasakan raganya, ketika kamu masi bisa menatap matanya, ketika kamu masi bisa
hangat peluknya, ciumnya. Boleh kamu membuatnya kecewa karena kita manusia,
tetapi jangan pernah kamu lupa mengembalikan kekecewaannya dengan senyum
kebanggaan terhadap dirimu, karena senyum kebanggaan yang dia berikan kepadamu
adalah maaf dari kekecewaan yang kamu buat untuknya. Minta maaflah ketika kamu
merasa salah dan berdosa terhadapnya, namun ketahuilah sebelum kamu meminta
maaf dia sudah memberikan maaf seribu kali banyaknya daripada maaf dari
mulutmu. Ibarat perpustakaan, ibu adalah penjaga perpustakaan itu, ketika
mendapati buku-bukunya usang bergegas untuk membersihkannya, menjaganya agar
buku-buku itu tetap menjadi indah tidak hilang dan selalu tertata rapi. (28 nov
1952-31 mei 2011) –dedicated for my angel-